Jumat, 27 Desember 2013

PRO KONTRA OBSESSIVE CORBUZIER DIET (OCD)



Beberapa waktu yang lalu, publik sempat dihebohkan oleh metode menguruskan badan penuh pro kontra ala Dedy Corbuzier. Sang Mentalist yang juga merambah dunia Presenter ini memang sekarang memiliki tubuh yang atletis bak Binaragawan. Sungguh bertolak belakang jika dibandingkan dengan dirinya dulu yang bertubuh tambun. Apa rahasia Dedy? Agaknya inilah yang memancing rasa penasaran publik, terutama bagi yang bertubuh gemuk untuk bisa mendapatkan tubuh ideal seperti idolanya tersebut.

Rahasianya yaitu Obsessive Corbuzier Diet (OCD), merupakan program diet yang dijalani oleh Master Dedy Corbuzier dengan cara berpuasa selama 3 bulan. Tapi bukan berpuasa seperti pada umumnya, namun OCD ini memiliki ciri khas dalam penjadwalan waktu puasa yang dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan metode puasa selama 16 jam, 18 jam, 20 jam, lalu meningkat hingga 24 jam. Itu sama halnya Anda hanya boleh makan selama 8 jam, 6 jam, 4 jam dan akhirnya sehari hanya sekali makan. Selama jam-jam ini Anda dibebaskan untuk makan apa saja asal tidak berlebihan. Selain itu Anda juga dianjurkan untuk tidak sarapan seperti biasanya.

ASKEP EFUSI PLEURA

A. Pengkajian
Anamnesis:
Efusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura (Price & Wilson 2005). Pada umumnya tidak bergejala . Makin banyak cairan yang tertimbun makin cepat dan jelas timbulnya keluhan karena menyebabkan sesak, disertai demam sub febril pada kondisi tuberkulosis.

Kebutuhan istrahat dan aktifitas
Klien mengeluh lemah, napas pendek dengan usaha sekuat-kuatnya, kesulitan tidur, demam pada sore atau malam hari disertai keringat banyak.
Ditemukan adanya tachicardia, tachypnea/dyspnea dengan usaha bernapas sekuat-kuatnya, perubahan kesadaran (pada tahap lanjut), kelemahan otot, nyeri dan stiffness (kekakuan).
Kebutuhan integritas pribadi
Klien mengungkapkan faktor-faktor stress yang panjang, dan kebutuhan akan pertolongan dan harapan
Dapat ditemukan perilaku denial (terutama pada tahap awal) dan kecemasan
Kebutuhan Kenyamanan/ Nyeri
Klien melaporkan adanya nyeri dada karena batuk
Dapat ditemukan perilaku melindungi bagian yang nyeri, distraksi, dan kurang istrahat/kelelahan
Kebutuhan Respirasi
Klien melaporkan batuk, baik produktif maupun non produktif, napas pendek, nyeri dada
Dapat ditemukan peningkatan respiratory rate karena penyakit lanjut dan fibrosis paru (parenkim) dan pleura, serta ekspansi dada yang asimetris, fremitus vokal menurun, pekak pada perkusi suara nafas menurun atau tidak terdengan pada sisi yang mengalami efusi pleura. Bunyi nafas tubular disertai pectoriloguy yang lembut dapat ditemukan pada bagian paru yang terjadi lesi. Crackles dapat ditemukan di apex paru pada ekspirasi pendek setelah batuk.
Karakteristik sputum : hijau/purulen, mucoid kuning atau bercak darah
Dapat pula ditemukan deviasi trakea
Kebutuhan Keamanan
Klien mengungkapkan keadaaan imunosupresi misalnya kanker, AIDS , demam sub febris
Dapat ditemukan keadaan demam akut sub febris
Kebutuhan Interaksi sosial
Klien mengungkapkan perasaan terisolasi karena penyakit yang diderita, perubahan pola peran.

Rabu, 04 Desember 2013

IMPLAN: 'Duri Dalam Daging' payudara wanita




Apakah Anda tahu dengan program reality show “The Hills”? Atau bahkan Anda salah satu penggemarnya? Kalau ‘ya’ berarti Anda juga pasti tahu dengan bintangnya, Heidi Montag.  Aktris dan penyanyi asal Amerika berusia 27 tahun ini bukan hanya dikenal karena bakatnya tapi juga karena bentuk tubuhnya yang sexy. Seperti tak puas dengan tubuhnya, Heidi lalu melakukan implan payudara dari ukuran C ke F. Tapi sayangnya, baru-baru ini keindahan ‘asset’nya itu seolah menjadi duri dalam daging di kehidupannya. Ukuran payudara yang terlalu besar dan tidak proporsional dengan tubuhnya yang kurus menimbulkan efek samping yang tidak ringan. Timbulnya sakit pada punggung dan leher serta mati rasa di daerah dada dan lengan yang berkelanjutan agaknya menjadi pemicu utama Heidi memutuskan untuk mengecilkan payudaranya kembali ke ukuran normal.

Dikenal juga dengan istillah Breast Augumentation atau Augumentation Mammoplasty. Implan payudara menjadi fenomena yang semakin marak dikalangan wanita, khususnya selebriti. Entah dilakukan demi kepuasan diri sendiri, pasangan atau hanya sensasi semata yang pasti banyak hal yang melatabelakanginya. Tapi jika Anda sedang berencana memasang implan, tunggu sampai Anda selesai membaca tulisan ini.

Prosedur implan payudara dilakukan melalui 3 potongan, yaitu inframammary(lipatan dibawah payudara), axillary(dibawah lengan) dan periareolar(sekitar puting). Setelah membedah bagian tersebut, ahli bedah akan memisahkan jaringan tisu payudara dari otot dan dada. Ini menghasilkan suatu kantung yang dapat diisi oleh implan dan kemudian disejajarkan di belakang puting.

Setelah prosedur ini selesai, seorang pasien mungkin akan mengalami rasa sakit atau pembengkakan dan payudara Anda akan menjadi sangat sensitif terhadap kontak fisik selama beberapa minggu. Apakah efeknya hanya itu saja? Oh tentu saja tidak, itu hanya termasuk dalam efek jangka pendek.
Efek jangka panjang dari implan payudara ini yaitu mempunyai resiko tinggi mengalami kebocoran atau bahkan pecah sewaktu-waktu, karena sifat implan sendiri tidak bisa bertahan selamanya. Seperti yang terjadi pada Julia Edgecox(55 tahun) wanita asal Inggris ini didiagnosa dokter terkena penyakit Silicone Granuloma. Penyakit ini disebabkan pecahnya implan sehingga tubuh Julia teracuni oleh cairan silikon. Diawali rasa nyeri seperti terbakar yang terus menerus sehingga akhirnya Julia memutuskan untuk mengangkat implan, menguras cairan silikon dan menggantungkan hidupnya pada Antihistamin untuk mengontrol reaksi terhadap racun. Tak sampai disitu, setiap 2-3 tahun sekali Julia harus operasi ulang untuk mengangkat benjolan ‘misterius’ yang kerap timbul. Dan hal itu harus ia jalani sepanjang hidupnya... Mengerikan bukan?
Bagi pengguna implan yang sedang menyusui bayi juga beresiko tinggi untuk menularkan infeksi oleh hematoma dari payudara mereka sendiri tanpa mereka sadari.

Jika ada cara yang sehat kenapa Anda harus memakai cara instan yang berisiko tinggi untuk memperbesar payudara. Menurut para ahli, melakukan latihan otot-otot dada secara rutin, mengkonsumsi produk kedelai yang mengandung hormon Phytoestrogen dan melakukan pijatan khusus secara teratur dapat meningkatkan ukuran payudara Anda secara alami. Jadi, masih tertarikkah Anda melakukan implan?

Senin, 11 Maret 2013

ASKEP PADA HIPERTENSI


CONTOH ASKEP HIPERTENSI



BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah lebih dari normal. Ini termasuk golongan penyakit yang terjadi akibat suatu mekanisme kompensasi kardiovaskuler untuk mempertahankan metabolisme tubuh agar berfungsi normal. Apabila hipertensi tidak terkontrol akan menyebabkan kelainan pada organ-organ lain yang berhubungan dengan sistem-sistem tersebut. Semakin tinggi tekanan darah lebih besar kemungkinan timbulnya penyakit-penyakit kardiovaskuler secara premature1. Sejumlah 85-90% hipertensi tidak diketahui penyebabnya atau disebut hipertensi primer (hipertensi esensial atau idiopatik). Hanya sebagian kecil hipertensi yang dapat ditetapkan penyebabnya (hipertensi sekunder). Tidak ada data akurat mengenai prevalensi hipertensi sekunder dan sangat tergantung dimana angka itu diteliti. Diperkirakan terdapat sekitar 6% pasien hipertensi sekunder sedangkan di pusat rujukan dapat mencapai sekitar 35%. Hampir semua hipertensi sekunder didasarkan pada 2 mekanisme yaitu gangguan sekresi hormon dan gangguan fungsi ginjal. Pasien hipertensi sering meninggal dini karena komplikasi jantung (yang disebut sebagai penyakit jantung hipertensi). Juga dapat menyebabkan syok, gagal ginjal, gangguan retina mata.

Jumat, 08 Maret 2013

ASKEP PADA DIARE



 DIARE (GASTRO ENTERITIS)
I.                   Pengertian

Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal ( > 3 kali/hari ), serta perubahan isi/volume ( > 200 gr/hari) dan konsistensi feces cair (Brunner & Suddarth, 2002).

Diare adalah peningkatan jumlah, volume, keenceran dan frekuensi buang air besar (medistore.com)

 II.  Patofisiologi
Peningkatan cairan intra luminal menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan waktu sentuh makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit, air dan zat-zat lain terganggu. Sehingga transport cairan dan elektrolit intestinal tidak normal.

Rabu, 06 Maret 2013

ASKEP PADA HEMOFILIA



 HEMOFILIA

A. Latar Belakang
Kata hemofilia pertama kali muncul pada sebuah tulisan yang ditulis oleh Hopff di Universitas Zurich, tahun 1828. Dan menurut ensiklopedia Britanica, istilah hemofilia (haemophilia) pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Jerman, Johann Lukas Schonlein (1793 - 1864), pada tahun 1928.
Pada abad ke 20, pada dokter terus mencari penyebab timbulnya hemofilia. Hingga mereka percaya bahwa pembuluh darah dari penderita hemofilia mudah pecah. Kemudian pada tahun 1937, dua orang dokter dari Havard, Patek dan Taylor, menemukan pemecahan masalah pada pembekuan darah, yaitu dengan menambahkan suatu zat yang diambil dari plasma dalam darah. Zat tersebut disebut dengan "anti - hemophilic globulin". Di tahun 1944, Pavlosky, seorang dokter dari Buenos Aires, Argentina, mengerjakan suatu uji coba laboratorium yang hasilnya memperlihatkan bahwa darah dari seorang penderita hemofilia dapat mengatasi masalah pembekuan darah pada penderita hemofilia lainnya dan sebaliknya. Ia secara kebetulan telah menemukan dua jenis penderita hemofilia dengan masing - masing kekurangan zat protein yang berbeda - Faktor VIII dan Faktor IX. Dan hal ini di tahun 1952, menjadikan hemofilia A dan hemofilia B sebagai dua jenis penyakit yang berbeda
Meskipun hemofilia telah lama dikenal di dalam kepustakaan kedokteran, tetapi di Jakarta baru tahun 1965 diagnosis laboratorik diperkenalkan oleh Kho Lien Keng dengan Thromboplastin Generation Time (TGT) di samping prosedur masa perdarahan dan masa pembekuan. Pengobatan yang tersedia di rumah sakit hanya darah segar, sedangkan produksi Cryoprecipitate yang dipakai sebagai terapi utama hemofilia di Jakarta, diperkenalkan oleh Masri Rustam pada tahun 1975.
Pada tahun 2000 hemofilia yang dilaporkan ada 314, pada tahun 2001 kasus yang dilaporkan mencapai 530. Diantara 530 kasus ini, 183 kasus terdaftar di RSCM, sisanya terdaftar di Bali, Bangka, Bandung, Banten, Lampung, Medan, Padang, Palembang, Papua, Samarinda, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang dan Yogyakarta.
Di antara 183 pasien hemofilia yang terdaftar di RSCM, 100 pasien telah diperiksa aktivitas faktor VIII dan IX. Hasilnya menunjukkan 93 orang adalah hemofilia A dan 7 pasien adalah hemofilia B. Sebagian besar pasien hemofilia A mendapat cryoprecipitate untuk terapi pengganti, dan pada tahun 2000 konsumsi cryoprecipitate mencapai 40.000 kantong yang setara dengan kira-kira 2 juta unit faktor VIII.
Pada saat ini Tim Pelayanan Terpadu juga mempunyai komunikasi yang baik dengan Tim Hemofilia dari negara lain. Pada Hari Hemofilia Sedunia tahun 2002, Pusat Pelayanan Terpadu Hemofilia RSCM telah ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Terpadu Hemofilia Nasional.
Pada tahun 2002 pasien hemofilia yang telah terdaftar di seluruh Indonesia mencapai 757, diantaranya 233 terdaftar di Jakarta, 144 di Sumatera Utara, 92 di Jawa Timur, 86 di Jawa Tengah dan sisanya tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua.

B.     Definisi
Hemofilia adalah penyakit koagulasi darah kongenital karena anak kekurangan faktor pembekuan VIII (Hemofilia A) atau faktor IX (Hemofilia B).
Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan factor pembeku darah yang disebabkan oleh kerusakan kromosom X. (www.anakku.net.)

C.     Etiologi
Penyebab Hemofilia adalah karena anak kekurangan faktor pembekuan VIII (Hemofilia A) atau faktor IX (Hemofilia B).
D.     Pathofisiologi
Hemofilia merupakan penyakit kongenital yang diturunkan oleh gen resesif x-linked dari pihak ibu.
Faktor VIII dan faktor IX adalah protein plasma yang merupakan komponen yang diperlukan untuk pembekuan darah, faktor-faktor tersebut diperlukan untuk pembentukan bekuan fibrin  pada tempat pembuluh cidera.
Hemofilia berat terjadi apabila konsentrasi faktor VIII dan faktor IX plasma kurang dari 1 %.
Hemofilia sedang jika konsentrasi plasma 1 % - 5 %.
Hemofilia ringan apabila konsentrasi plasma 5 % - 25 % dari kadar normal.
Manifestasi klinis yang muncul tergantung pada umur anak dan deficiensi faktor VIII dan IX.
Hemofilia berat ditandai dengan perdarahan kambuhan, timbul spontan atau setelah trauma yang relatif ringan.
Tempat perdarahan yang paling umum di dalam persendian lutut, siku, pergelangan kaki, bahu dan pangkal paha.
Otot yang tersering terkena adalah flexar lengan bawah, gastrak nemius, & iliopsoas.


E.     Manifestasi Klinis
1.       Masa Bayi (untuk diagnosis)
a.       Perdarahan berkepanjangan setelah sirkumsisi
b.       Ekimosis subkutan di atas tonjolan-tonjolan tulang (saat berumur 3-4 bulan)
c.       Hematoma besar setelah infeksi
d.      Perdarahan dari mukosa oral.
e.       Perdarahan Jaringan Lunak
2.       Episode Perdarahan (selama rentang hidup)
a.       Gejala awal      : nyeri
b.       Setelah nyeri    : bengkak, hangat dan penurunan mobilitas)
3.       Sekuela Jangka Panjang
Perdarahan berkepanjangan dalam otot menyebabkan kompresi saraf dan fibrosis otot.

F.     Komplikasi
1.       Artropati progresif, melumpuhkan
2.       Kontrakfur otot
3.       Paralisis
4.       Perdarahan intra kranial
5.       Hipertensi
6.       Kerusakan ginjal
7.       Splenomegali
8.       Hepatitis
9.       AIDS (HIV) karena terpajan produk darah yang terkontaminasi.
10.   Antibodi terbentuk sebagai antagonis terhadap faktor VIII dan IX
11.   Reaksi transfusi alergi terhadap produk darah
12.   Anemia hemolitik
13.   Trombosis atau tromboembolisme


G.      Uji Laboratorium dan Diagnostik
1.       Uji Laboratorium (uji skrining untuk koagulasi darah)
a.       Jumlah trombosit (normal)
b.       Masa protrombin (normal)
c.       Masa trompoplastin parsial (meningkat, mengukur keadekuatan faktor koagulasi intrinsik)
d.      Masa perdarahan (normal, mengkaji pembentukan sumbatan trombosit dalam kapiler)
e.       Assays fungsional terhadap faktor VIII dan IX (memastikan diagnostik)
f.        Masa pembekuan trompin
2.       Biapsi hati (kadang-kadang) digunakan untuk memperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi dan kultur.
3.       Uji fungsi hati (SGPT, SGOT, Fosfatase alkali, bilirubin)





H.    Pengkajian Keperawatan


1.Pengkajian sistem neurologik
a.       Pemeriksaan kepala
b.       Reaksi pupil
c.       Tingkat kesadaran
d.      Reflek tendo
e.       Fungsi sensoris
2.Hematologi
a.       Tampilan umum
b.       Kulit : (warna pucat, petekie, memar, perdarahan membran mukosa atau dari luka suntikan atau pungsi vena)
c.       Abdomen (pembesaran hati, limpa)
3.                  Kaji anak terhadap perilaku verbal dan nonverbal yang mengindikasikan nyeri
4.                  Kaji tempat terkait untuk menilai luasnya tempat perdarahan dan meluasnya kerusakan sensoris, saraf dan motoris.
5.                  Kaji kemampuan anak untuk melakukan aktivitas perawatan diri (misal : menyikat gigi)
6.                  Kaji tingkat perkembangan anak
7.                  Kaji Kesiapan anak dan keluarga untuk pemulangan dan kemampuan menatalaksanakan program pengobatan di rumah.
8.                  Kaji tanda-tanda vital (TD, N, S, Rr).

I.     Diagnosa Keperawatan
1.       Risiko injuri b.d perdarahan
2.       Nyeri b.d perdarahan dalam jaringan dan sendi
3.       Risiko kerusakan mobilitas fisik b.d efek perdarahan pada sendi dan jaringan lain.
4.       Perubahan proses keluarga b.d anak menderita penyakit serius


J.        Intervensi Keperawatan
DP I
Tujuan       : Menurunkan risiko injuri
Intervensi :
1.       Ciptakan lingkungan yang aman dan memungkinkan proses pengawasan
2.       Beri dorongan intelektual / aktivitas kreatif
3.       Dorong OR yang tidak kontak (renang) dan gunakan alat pelindung : helm
4.       Dorong orang tua anak untuk memilih aktivitas yang dapat diterima dan aman
5.       Ajarkan metode perawatan / kebersihan gigi.
6.       Dorong remaja untuk menggunakan shaver hindari ROM pasif setelah episode perdarahan akut.
7.       Beri nasehat pasien untuk mengenakan identitas medis.
8.       Beri nasehat pasien untuk tidak mengkonsumsi aspirin, bisa disarankan menggunakan Asetaminofen.

DP I         
Tujuan       : Sedikit atau tidak terjadi perdarahan
Intervensi  :
1.       Sediakan dan atur konsentrat faktor VIII + DDAVP sesuai kebutuhan.
2.       Berikan pendidikan kesehatan untuk pengurusan penggantian faktor darah di rumah.
3.       Lakukan tindakan suportif untuk menghentikan perdarahan
·         Beri tindakan pada area perdarahan 10 – 15 menit.
·         Mobilisasi dan elevasi area hingga diatas ketinggian jantung.
·         Gunakan kompres dingin untuk vasokonstriksi.

DP II
Tujuan        : Pasien tidak menderita nyeri atau menurunkan intensitas atau skala nyeri yang dapat diterima anak.

Intervensi  :
1.       Tanyakan pada klien tengtang nyeri yang diderita.
2.       Kaji skala nyeri.
3.       Evaluasi perubahan perilaku dan psikologi anak.
4.       Rencanakan dan awasi penggunaan analgetik.
5.       Jika injeksi akan dilakukan, hindari pernyataan “saya akan memberi kamu injeksi untuk nyeri”.
6.       Hindari pernyataan seperti “obat ini cukup untuk orang nyeri”.
7.       “Sekarang kamu tidak membutuhkan lebih banyak obat nyeri lagi”.
8.       Hindari penggunaan placebo saat pengkajian/ penatalaksanaan nyeri.

DP III
Tujuan       : Menurunkan resiko kerusakan mobilitas fisik.
Intervensi  :
1.       Elevasi dan immobilisasikan sendi selama episode perdarahan.
2.       Latihan pasif sendi dan otot.
3.       Konsultasikan dengan ahli terapi fisik untuk program latihan.
4.       Konsultasikandengan perawat kesehatan masyarakat dan terapi fisik untuk supervisi ke rumah.
5.       Kaji kebutuhan untuk manajemen nyeri.
6.       Diskusikan diet yang sesuai.
7.       Support untuk ke ortopedik dalm rehabilitasi sendi.

DP IV
Tujuan       : Klien dapat menerima support adekuat.
Intervensi  :
1.       Rujuk pada konseling genetik untuk identifikasi kerier hemofilia dan beberapa kemungkinan yang lain.
2.       Rujuk kepada agen atau organisasi bagi penderita hemofilia.


DAFTAR PUSTAKA

1.       Cecily. L Betz, 2002, Buku Saku Keperawatan Pediatri, Alih bahasa Jan Tambayong, EGC, Jakarta.

2.       Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 1, Infomedika, Jakarta.

3.       Sodeman, 1995, Patofisiologi Sodeman : Mekanisme Penyakit, Editor, Joko Suyono, Hipocrates, Jakarta.

4.       Arif M, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid 2, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta.

Ads Inside Post