DIARE (GASTRO ENTERITIS)
I.
Pengertian
Diare
adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal ( > 3
kali/hari ), serta perubahan isi/volume ( > 200 gr/hari) dan konsistensi
feces cair (Brunner & Suddarth, 2002).
Diare adalah peningkatan jumlah, volume, keenceran dan frekuensi buang air besar (medistore.com)
II. Patofisiologi
Peningkatan
cairan intra luminal menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena
meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila waktu
henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan waktu sentuh makanan
dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit, air dan zat-zat lain
terganggu. Sehingga transport cairan dan elektrolit intestinal tidak normal.
III. Gejala Klinis
a. Diare.
b. Muntah.
c. Demam.
d. Nyeri abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering
f. Fontanel cekung
g. Kehilangan berat badan
h. Tidak nafsu makan
i. Badan terasa lemah
IV. Komplikasi
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
V. Tingkat Dehidrasi Gastroenteritis
a. Dehidrasi Ringan
Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan
gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, klien belum jatuh
pada keadaan syok.
b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan
gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, presyok nadi cepat dan
dalam.
c. Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 – 10 % dari berat badan dengan
gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran
menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai
sianosis.
VI. Penatalaksanaan Medis
a. Pemberian cairan
Pemberian cairan, pada klien Diare dengan
memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.
1. Cairan per oral.
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan
diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na, HCO, K dan Glukosa,
untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan, atau sedang kadar
natrium 50-60 Meq/l dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula )
atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk
pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih
lanjut.
2. Cairan parenteral.
Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan
tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan
kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
a) Dehidrasi ringan
1 jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB, kemudian 125 ml / Kg
BB setiap minum
b) Dehidrasi sedang
1jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral, kemudian 125
ml / kg BB / hari.;
c) Dehidrasi berat.
Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3
– 10 kg
· 1
jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml =
15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.
· 7
jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml =
20 tetes ).;
· 16 jam berikutnya
125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra
vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan
10 – 15 kg.
· 1
jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml =
15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).
· 7 jam kemudian
127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan
dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan
15 – 25 kg.
· 1
jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml =
20 tetes ).
· 16
jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.
b. Diatetik : pemberian
makanan dan minuman khusus pada klien dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan
adapun hal yang perlu diperhatikan : 1.Memberikan asi.
2. Memberikan bahan makanan yang
mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
c. Obat-obatan
· Obat
anti sekresi.
· Obat
anti spasmolitik.
· Obat
antibiotik
VII. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium.
· Pemeriksaan
tinja.
· Pemeriksaan gangguan
keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila memungkinkan dengan menentukan
PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.
· Pemeriksaan
kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
b. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum
Untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara
kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN GASTROENTERITIS ( GE )
I. Pengkajian
Keperawatan
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,
analisa data dan penentuan masalah.Pengumpulan data diperoleh dengan cara
intervensi, observasi, pemeriksaan fisik.
1. Identitas klien.;
2. Riwayat keperawatan.
· Awalan serangan : Awalnya
anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
· Keluhan utama : Faeces
semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala
dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan
turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB
lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
3. Riwayat kesehatan masa lalu.;
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian
imunisasi.
4. Riwayat psikososial keluarga.;
Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu
sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak
mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya,
mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
5. Kebutuhan dasar.
· Pola eliminasi : akan mengalami
perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
· Pola nutrisi : diawali
dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.
· Pola tidur dan istirahat akan
terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak
nyaman.
· Pola hygiene : kebiasaan mandi
setiap harinya.
· Aktivitas : akan terganggu karena
kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.;
6. Pemerikasaan fisik.
a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum
tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat
dan lemah, pernapasan agak cepat.;
b. Pemeriksaan sistematik :
· Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun
besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus
kemerahan.
· Perkusi : adanya distensi
abdomen.
· Palpasi : Turgor kulit kurang
elastis
· Auskultasi : terdengarnya bising
usus.
c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
d. Pada anak diare akan mengalami
gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.;
e. Pemeriksaan penunjang.;
f. Pemeriksaan tinja, darah lengkap
dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan
kualitatif.
II. Diagnosa
Keperawatan GE
1. Defisit volume cairan dan elektrolit
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan
dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan distensi abdomen.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan
kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan
orang tua, prosedur yang menakutkan.
III. Intervensi
1) Diagnosa 1
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
Tujuan :
Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria hasil:
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan
bibir lembab, balan cairan seimbang
Intervensi :
· Observasi
tanda-tanda vital.
· Observasi
tanda-tanda dehidrasi.
· Ukur
input dan output cairan (balan cairan).
· Berikan
dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 –
2500 cc per hari.
· Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian therapi cairan, pemeriksaan lab elektrolit.
· Kolaborasi
dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
2) Diagnosa 2
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubuingan dengan mual dan muntah.
Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil :
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi
yang disediakan, mual, muntah tidak ada.
Intervensi :
· Kaji
pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.
· Timbang
berat badan klien.
· Kaji
faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.
· Lakukan
pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi, dan auskultasi).
· Berikan
diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
· Kolaborasi
dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
3) Diagnosa 3
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,
frekwensi BAB yang berlebihan.
Tujuan :
Gangguan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil :
Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada,
tanda-tanda infeksi tidak ada
Intervensi :
· Ganti
popok anak jika basah.
· Bersihkan
bokong secara perlahan menggunakan sabun non alkohol.
· Beri
zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
· Observasi
bokong dan perineum dari infeksi.
· Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi sesuai indikasi.
4) Diagnosa 4.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
abdomen.
Tujuan :
Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang
Intervensi :
· Observasi
tanda-tanda vital.
· Kaji
tingkat rasa nyeri.
· Atur
posisi yang nyaman bagi klien.
· Beri
kompres hangat pada daerah abdomen.
· Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian therapi analgetik sesuai indikasi.
5) Diagnosa 5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
Tujuan:
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil :
Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien,
ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses
penyakit klien.
Intervensi :
· Kaji
tingkat pendidikan keluarga klien.
· Kaji
tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien.
· Jelaskan
tentang proses penyakit klien dengan melalui pendidikan kesehatan. Berikan
kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.
· Libatkan
keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Daftar Pustaka
Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan &
Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarata : EGC
Dongoes (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta :
EGC
Makalah Kuliah . Tidak diterbitkan.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta
Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.
Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak.
Surabaya : GRAMIK FK Universitas Airlangga.
Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I.
Jakarata : EGC
2 komentar:
aku kopi say. makasih artikelnyA
oke...masama..^^
Posting Komentar