Jumat, 08 Maret 2013

ASKEP PADA DIARE



 DIARE (GASTRO ENTERITIS)
I.                   Pengertian

Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal ( > 3 kali/hari ), serta perubahan isi/volume ( > 200 gr/hari) dan konsistensi feces cair (Brunner & Suddarth, 2002).

Diare adalah peningkatan jumlah, volume, keenceran dan frekuensi buang air besar (medistore.com)

 II.  Patofisiologi
Peningkatan cairan intra luminal menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan waktu sentuh makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit, air dan zat-zat lain terganggu. Sehingga transport cairan dan elektrolit intestinal tidak normal.

 III.   Gejala Klinis

a. Diare.
b. Muntah.
c. Demam.
d. Nyeri abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering
f. Fontanel cekung
g. Kehilangan berat badan
h. Tidak nafsu makan
i. Badan terasa lemah

 IV.    Komplikasi

a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

 V.   Tingkat Dehidrasi Gastroenteritis

a.  Dehidrasi Ringan
Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, klien belum jatuh pada keadaan syok.
b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak,  presyok nadi cepat dan dalam.
c.  Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 – 10 % dari berat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.


 VI.   Penatalaksanaan Medis
a.  Pemberian cairan
Pemberian cairan, pada klien Diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.

1.      Cairan per oral.

Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na, HCO, K dan Glukosa, untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan, atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/l dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.

2.      Cairan parenteral.
Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
a)      Dehidrasi ringan
1 jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB, kemudian 125 ml / Kg BB setiap minum
b)      Dehidrasi sedang
1jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral, kemudian 125 ml / kg BB / hari.;

c)      Dehidrasi berat.
Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg
·         1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.
·         7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).;
·      16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.
·         1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).
·      7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.
·         1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
·         16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.
b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan : 1.Memberikan asi.
2. Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
c. Obat-obatan
·         Obat anti sekresi.
·         Obat anti spasmolitik.
·         Obat antibiotik


VII.  Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium.
·         Pemeriksaan tinja.
·    Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.
·         Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
b. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum 
Untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GASTROENTERITIS ( GE )

I.   Pengkajian Keperawatan

Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah.Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaan fisik.

1.   Identitas klien.;

2.   Riwayat keperawatan.
·    Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
·    Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.

3.   Riwayat kesehatan masa lalu.;
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

4.   Riwayat psikososial keluarga.;

Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.

5.   Kebutuhan dasar.
·     Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
·     Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.
·     Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
·     Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
·     Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.;

6.   Pemerikasaan fisik.
a.   Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.;
b.   Pemeriksaan sistematik :
·     Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
·     Perkusi : adanya distensi abdomen.
·     Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
·     Auskultasi : terdengarnya bising usus.
c.   Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
d.    Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat   badan menurun.;
e.    Pemeriksaan penunjang.;
f.    Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.


II.   Diagnosa Keperawatan GE
1.   Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2.   Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
3.   Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
4.   Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
5.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
6.   Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan.


III.    Intervensi

1)  Diagnosa 1

Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

Tujuan :

Devisit cairan dan elektrolit teratasi

Kriteria hasil:

Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang

Intervensi :
·         Observasi tanda-tanda vital.
·         Observasi tanda-tanda dehidrasi.
·         Ukur input dan output cairan (balan cairan).
·         Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari.
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan, pemeriksaan lab elektrolit.
·         Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.


2)      Diagnosa 2
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil :
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual, muntah tidak ada.
Intervensi :
·         Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.
·         Timbang berat badan klien.
·         Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.
·         Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi, dan auskultasi).
·         Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
·         Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.


3)      Diagnosa 3

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.

Tujuan :

Gangguan integritas kulit teratasi

Kriteria hasil :

Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada

Intervensi :
·         Ganti popok anak jika basah.
·         Bersihkan bokong secara perlahan menggunakan sabun non alkohol.
·         Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
·         Observasi bokong dan perineum dari infeksi.
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi sesuai indikasi.

4)      Diagnosa 4.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

Tujuan :

Nyeri dapat teratasi

Kriteria hasil :

Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang

Intervensi :
·         Observasi tanda-tanda vital.
·         Kaji tingkat rasa nyeri.
·         Atur posisi yang nyaman bagi klien.
·         Beri kompres hangat pada daerah abdomen.
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi analgetik sesuai indikasi.

5)      Diagnosa 5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
Tujuan:
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil :
Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
Intervensi :
·         Kaji tingkat pendidikan keluarga klien.
·         Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien.
·         Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui pendidikan kesehatan. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.
·         Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.


Daftar Pustaka
Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarata : EGC
Dongoes (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC
Makalah Kuliah . Tidak diterbitkan.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.
Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak. Surabaya : GRAMIK FK Universitas Airlangga.
Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I. Jakarata : EGC

2 komentar:

Unknown mengatakan...

aku kopi say. makasih artikelnyA

dian rina mengatakan...

oke...masama..^^

Ads Inside Post